Bebas Sampah ID

Pasupati Banjir Cileuncang, Ini Sebabnya

Media: http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2017/10/01/pasupati-banjir-cileuncang-ini-sebabnya-410624 | 02 Oktober 2017


Sampah di jembatan Pasupati/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

PEJALAN kaki melintas di samping serakan sampah di Jembatan Pasupati, Kota Bandung, Minggu 1 Oktober 2017. TErsumbatnya penutup saluran pembuangan air oleh sampah membuat jembatan yang menjadi ikon Kota Bandung tersebut banjir beberapa waktu lalu.*

Oleh: Muhammad Fikry Mauludy | 1 Oktober, 2017 - 20:32

BANDUNG, (PR).- Banjir cileuncang yang terjadi di jalan layang Pasupati beberapa hari kemarin dikhawatirkan akan terus berulang. Banjir cileuncang di atas jalan raya ini terjadi karena puluhan saluran pembuangan air di jalan layang yang tersumbat sampah setiap hari.

Dari pantauan “PR,” Minggu 1 Oktober 2017, sejumlah sampah masih ditemui di beberapa titik jalan layang. Terdapat sampah plastik, daun sisa pembungkus makanan, kemasan kardus minuman, hingga puntung rokok yang diduga dilempar pengendara yang melintasi jalan layang Pasupati.

Di sejumlah besi penyaring (desk plate) yang terpasang di mulut saluran drainase juga terlihat dipenuhi sampah. Diyakini, sampah yang berukuran melebihi lubang besi penyaring itu terkumpul oleh angin atau air hujan. Terkumpulnya sampah di mulut lubang penyaring drainase ini juga yang diduga kuat sebagai penyebab banjir cileuncang, saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

Laporan sampah yang tak henti bermunculan meskipun sudah dibersihkan juga didapat dari para pekerja yang tengah melakukan pemeliharaan jalan layang. Sejak September lalu, terdapat 10 pekerja yang sedang mengganti expansion joint antarsegmen jalan layang berusia 12 tahun itu.

Staf Satker Metropolitan Bandung, Slamet Riyadi, mengakui jika sampah di jalan layang penghubung Jalan Pasteur dengan Lapangan Gasibu itu seakan tak pernah hilang. Padahal, sampah dan butiran pasir di badan jalan layang itu rutin dibersihkan petugas PD Kebersihan Kota Bandung setiap hari.

“Pemeliharaan terus dilakukan, sambil kerja (pekerjaan penggantian expansion joint) sambil pungutin sampah di sekitar. Tetapi saya enggak mengerti, ini sampah cepat sekali muncul lagi,” tutur Slamet, yang bertugas mengawasi proyek yang dikerjakan 24 jam sehari itu.

Pembuang sampah sembarangan

Ia dan pekerja lainnya kerap menemukan sampah yang didominasi plastik berbagai ukuran, kemasan makanan styrofoam, kemasan makanan karton, hingga kemasan minuman. Yang lebih mengejutkan, tak sedikit temuan sampah aneh seperti kain baju hingga handuk tebal. Sampah-sampah berukuran padat dengan dimensi besar itu biasanya terkumpul di mulut lubang drainase.

Dengan tertutupnya lubang besi penyaring, aliran air dari hujan yang intensitasnya mulai tinggi belakangan ini menyebabkan air tertahan dan terkumpul di badan jalan. Seperti diketahui, tepat di titik kabel jembatan (cable stayed) berada, kontur badan jalan menuju arah Gerbang Tol Pasteur sedikit menanjak.

Akibatnya lubang drainase yang tersumbat membuat aliran air terkumpul dan menggenang menjadi banjir cileuncang. Saat kejadian, banyak beredar foto banjir itu di media sosial. Selain sejumlah sampah kecil, ternyata jalan layang Pasupati juga menjadi target warga yang membuang sampah rumah tangga, baik di badan jalan layang, maupun di bawah jalan layang.

“Biasanya menjelang subuh. Ketika kami pergoki, kami sempat teriak-teriak, mau kami foto, pembuang sampah itu kabur, kadang pakai mobil, atau juga motor,” ujarnya. Selain masalah sampah di badan jalan layang, para pekerja juga pernah menemukan beberapa pipa saluran buangan ukuran 10 inci di sejumlah titik di bawah jalan layang, dalam keadaan terpenggal hingga 5 meter dari dasar jembatan.